Sunday, October 17, 2010

Masihkah Kata "adil" Tercantum di Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia?

Evening World,

Saya yakin semua pasti tahu, minimal pernah denger kata "adil". Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia versi online, adil adalah sama berat, tidak berat sebelah, tidak memihak, berpihak pada kebenaran, membela yang benar, dan sebagainya. Bisa dilihat betapa indah makna yang terkandung dalam sebuah kata adil tersebut. Namun di dalam blog ini, Anda mungkin akan jarang menemukan bahasan yang indah, karena yang akan saya bahas di blog ini adalah fakta idealis tetapi tidak egois.

Ketika memasuki dunia pendidikan yang sudah bisa dimulai pada umur 4 tahun (masa taman kanak-kanak), kita akan diberikan bekal hidup yang akan kita pakai kelak besar nanti. Ilmu agama, bahasa, seni, menulis, berbicara, kebudayaan, dan moral, semua diberikan pada saat kita mengenyam dunia pendidikan dasar tersebut.

Jika kita membicarakan pendidikan, yg terlintas di kepala kita dengan cepat adalah pintar. Orang tua mana yang tidak mau anaknya pintar. Setiap orang tua yang waras, pasti segera menyekolahkan anaknya jika sudah cukup umur. Lalu apa yang salah? yang salah bukan kegiatannya, tapi isi dari kegiatannya.

Tanpa kita sadari, dari mulai kita mengenyam sesuatu yang dididikkan oleh orang lain, dari situlah kita mulai menerima sejumlah dogma yang ternyata kurang baik jika diterapkan kelak ketika dewasa. Hal itu sendiri datang dari orang-orang terdekat, seperti orang tua dan guru. Sepertinya 90% orang yang membaca blog ini akan berfikir artikel ini hanya omong kosong. Oleh sebab itu, untuk mengatisipasinya, saya akan memberikan contoh agar saya bisa membela diri dengan fakta.

*Saat seseorang masih kecil, ketika ia sedang lari-lari, kemudian tersandung dan sontak ia menangis, kemudian orang tuanya melihat apa yang terjadi, dan apa yang  dilakukannya? hal pertama yang dilakukannya adalah mencoba mendiamkan dan menenangkan sang anak dengan kasih sayangnya, dan sebuah dogma tentunya. Orang tua pasti selalu menyalahkan benda apapun yang membuat anaknya jatuh, walaupun si anak tahu benda tersebut tidak melakukan apa-apa. "udah... cup..cup.. batunya nakal..." (apa yg bisa dilakukan batu itu?)

Sekarang kita kembali ke topik awal kita yaitu "adil". Hubungannya dengan pendidikan dan dogma itu adalah, dengan diberikannya pendidikan seperti itu pada kita, kita secara tidak langsung membuat keberadaan kata adil di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia menjadi terancam. Hari ini, detik ini juga, coba pikirkan 10 nama orang yang Anda kenal yang mempunyai sifat adil, tentunya sudah terbukti adilnya. Jujur, nama saya bahkan tidak masuk dalam daftar saya sendiri.

Terancamnya kata adil di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, tidak lain karena mental kita yang sudah terbiasa dimanja sejak kecil, sudah terbiasa melihat ketidakadilan dimana batu yang sama sekali tidak melakukan apa-apa, dengan jumawanya dituduh bersalah oleh orang tua kita. Efeknya?    Lihat sendiri. Banyak ketidakadilan yang terjadi, banyak kasus imitasi di mana yang kaya yang benar, penegak hukum berganti tugas menjadi penjual hukum, hakim agung mendapat gelar baru yaitu hakmu agung, dan masih banyak lagi.

Saya tidak akan mengupas lebih jauh, biar imajinasi Anda yang menentukan apakah anda sudah adil dan mendapat perlakuan yang adil. Tapi satu hal yang ingin saya tekankan, manja adalah dasar ketidakadilan karena dengan adanya sifat manja pada diri kita, kita akan melakukan apapun untuk memanjakan diri kita.

Kesimpulannya? Kita harus adil, tapi jangan jadikan keadilan sebagai tameng untuk menjadikan Anda egois. Adil bukan tentang diri Anda sendiri.

Terima kasih kepada para pembaca yang sudah meluangkan waktunya mampir di blog saya ini. Semoga para pembaca selalu dalam naungan kasih sayang Tuhan.

Saturday, October 16, 2010

Pagi Hari, Masih (punya) Pagi

Dear World,

Siapa sih yang ga kenal pagi? 
Anak sekolah punya pagi, orang kantor punya pagi, sampe-sampe tukang sampah pun punya pagi. Saya dulu juga sempat punya pagi selama 12 tahun, bahkan lebih. Sayangnya, orang-orang yang punya pagi itu dijamin hidupnya monoton, kecuali dia orang yg over activity atau orang yg kelewat kreatif sampe-sampe ngeliat gelas akua kosong aja dijadiin objekan.

Kenapa orang yang punya pagi itu orang yang monoton? 
Coba aja liat sendiri. Bangun tidur, ngumpulin nyawa, ngopi/nyusu/ngeteh, mandi, berangkat, ~aktivitas~, pulang, rehat, tidur, dan begitu seterusnya pada hari kerja. Saya sempat merasakan hal itu. Menyenangkan sekaligus bosan, tapi entah kenapa itu harus dijalani karena kalo ngga dijalani kayaknya ada yang kurang (pemikiran apaan nih?). YAH! tapi itulah fakta hidup. Semua orang di dunia yang punya pagi pasti melakukan hal itu. Jadi saya gak boleh kaget kalo suatu saat nanti (dalam waktu dekat lebih tepatnya) saya akan punya pagi lagi.

Kenapa saya mengomentari orang yang punya pagi?
Karena saya sempat merasakan tidak punya pagi selama empat tahun. Saya kuliah siang, dan asal Anda tahu, hidup saya lebih berwarna ketika saya tidak punya pagi. Saya hidup layaknya "manusia" bukan robot sistemik yang melakukan hal yang sama tiap hari. Tapi, lagi-lagi itulah fakta, dan yang saya bicarakan tadi adalah faktanya.

Terima kasih kepada para pengunjung blog saya. Semoga kalian yang mengunjungi Blog ini selalu dalam limpahan karunia Tuhan.

pemikiran singkat

Hello world,

Ini blog pertama, postingan pertama, dan pemikiran gila pertama yg akan saya post di sini. Kenapa harus idealis minimalis? Ya karena di sini tempatnya ngeluarin ide-ide, pemikiran, bahkan keluh kesah yg bersifat sangat idealis.

Kita pastinya pernah ngerasain suatu hal yang punya nama "muak" kan? Entah muak sama temen, orang tua, keadaan rumah tangga, nasib, kerjaan, dll. Kita juga pasti pernah muak sampai taraf ekstrim. Taraf di mana kita udah sangat muak sampe pengen ngilangin itu orang atau sesuatu, bahkan diri sendiri. Yah, paling-paling dari 100 orang yang muak, presentase orang yang berani ngelakuin itu gak jauh dari:
1. Ngilangin orang yang dimuakinya 40%
2. Ngilangin suatu hal yang bikin dia muak 20%
3. Ngilangin diri sendiri 5%
*sumber = pemikiran sendiri

Hasilnya koq gak 100%? Ya, karena sisanya itu orang2 yang pasrah, yang ga bisa apa2, yang hak-hak dasarnya seperti dicabut. Yang ada dalam pikirannya cuma "saya sudah muak" tapi ga bisa ngelakuin apa-apa, entah itu yang positif atau yang negatif. Kalau saya? Saya hanya berada di taraf "berfikir sejenak", hahaha. Seperti tidak ada kesimpulan, dan posting ini selesai.

Terima kasih sudah bersedia meluangkan waktunya untuk membaca "artikel" ini. Semoga anda yang berkunjung ke blog saya ini, selalu mendapat lindungan dan karunia Tuhan.